seputar ekonomi islam
Perkembangan Ekonomi Islam di Indonesia
Ekonomi islam dalam tiga dasawarsa ini mengalami kemajuan yang pesat, baik dalam kajian akademis di perguruan tinggi maupun dalam praktek operasional. Dalam bentuk pengajaran, ekonomi islam telah dikembangkan di beberapa universitas baik di negara-negara muslim, maupun di negara-negara barat, seperti USA, Inggris, Australia, dan Iain-lain.Dalam bentuk praktek, ekonomi islam telah berkembang dalam bentuk lembaga perbankan dan juga lembaga-lembaga islam non bank lainya. Sampai saat ini, lembaga perbankan dan lembaga keuangan islam lainya telah menyebar ke 75 negara termasuk ke negara barat (WASPADA online).
Di Indonesia, perkembangan pembelajaran dan pelaksanaan ekonomi islam juga telah mengalami kemajuan yang pesat. Pembelajaran tentang ekonomi islam telah diajarkan di beberapa perguruan tinggi negeri maupun swasta. Perkembangan ekonomi islam telah mulai mendapatkan momentum sejak didirikannya Bank Muamalat pada tahun 1992. Berbagai Undang-Undangnya yang mendukung tentang sistem ekonomi tersebutpun mulai dibuat, seperti UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana yang telah diubah dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 dan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, bahkan mendapat dukungan langsung dari bapak wakil presiden Indonesia, Jusuf Kalla.
Sejarah Berdirinya
Sebenarnya aksi maupun pemikiran tentang ekonomi berdasarkan islam memiliki sejarah yang amat panjang. Pada sekitar tahun 1911 telah berdiri organisasi Syarikat Dagang Islam yang beranggotakan tokoh-tokoh atau intelektual muslim saat itu, serta ekonomi islam ini sesuai dengan pedoman seluruh umat islam di dunia yaitu di dalam Al-Qur’an yang mengatakan bahwa jika kamu akan bermuamalah, hendaklah kamu menuliskannya dengan benar, dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakannya (apa yang akan dituliskan itu), dan janganlah orang itu mengurangi sedikit pun dari utangnya. Jika orang yang mengutang itu lemah akalnya atau lemah keadaanya atau tidak mampu mengimlakannya, maka hendaklah walinya yang mengimlakannya dengan jujur. Selain itu juga harus didatangkan dua orang saksi dari orang lelaki. Jika tidak ada maka boleh dengan seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu kehendaki, dan jangalah saksi itu enggan memberikan memberi keterangan apabila mereka dipanggil, dan janganlah engkau jemu menulis utang itu baik kecil maupun besar sampai batas waktu pembayaranya. Kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai kamu, maka tak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskanya. Dan persaksikanlah apabila kau berjual beli, dan janganlah penulis dan saksi saling menyulitkan (Q, S Al-Baqarah: 282).
Perkembangan ekonomi islam yang semakin marak ini merupakan cerminan dan kerinduan umat islam di Indonesia ini khususnya seorang pedagang, berinvestasi, bahkan berbisnis yang secara islami dan diridhoi oleh Allah swt. Dukungan serta komitmen dari Bank Indonesia dalam keikutsertaanya dalam perkembangan ekonomi islam dalam negeripun merupakan jawaban atas gairah dan kerinduan dan telah menjadi awalan bergeraknya pemikiran dan praktek ekonomi islam di dalam negeri, juga sebagai pembaharuan ekonomi dalam negeri yang masih penuh kerusakan ini, serta awal kebangkitan ekonomi islam di Indonesia maupun di seluruh dunia, misalnya di Indonesia berdiri Bank Muamalat tahun 1992.
Pada awal tahun 1997, terjadi krisis ekonomi di Indonesia yang berdampak besar terhadap goncangan lembaga perbankan yang berakhir likuidasi pada sejumlah bank, Bank Islam atau Bank Syariah malah bertambah semakin pesat. Pada tahun 1998, sistem perbankan islam dan gerakan ekonomi islam di Indonesia mengalami kemajuan yang sangat pesat.
Tantangan yang harus dihadapi
Namun selain itu sesuai dengan perkembangan ekonomi global dan semakin meningkatnya minat masyarakat dengan ekonomi perbankan secara islami, ekonomi islam mendapat tantangan yang sangat besar pula. Setidaknya ada tiga tantangan yang harus dihadapi, yaitu: Pertama, ujian atas kredibilitas sistem ekonomi dan keuanganya. Kedua, bagaimana sistem ekonomi islam dapat meningkatkan dan menjamin atas kelangsungan hidup dan kesejahteraan seluruh umat, dapat menghapus kemiskinan dan pengangguran di Indonesia ini yang semakin marak, serta dapat memajukan ekonomi dalam negeri yang masih terpuruk dan dinilai rendah oleh negara lain. Dan yang ketiga, mengenai perangkat peraturan; hukum dan kebijakan baik dalam skala nasional maupun dalam skala internasional. Untuk menjawab pertanyaan itu, telah dibentuk sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang tersebut yaitu organisasi IAEI (Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia).
Organisasi tersebut didirikan dimaksudkan untuk membangun jaringan kerja sama dalam mengembangkan ekonomi islam di Indonesia baik secara akademis maupun secara praktek. Dengan berdirinya organisasi tersebut, diharapkan agar para ahli ekonomi islam yang terdiri dari akademisi dan praktisi dapat bekerja sama untuk menjalankan pendapat dan aksinya secara bersama-sama, baik dalam penyelenggaraan kajian melalui forum-forum ilmiah ataupun riset, maupun dalam melaksankan pengenalan tentang sistem ekonomi islam kepada masyarakat luas. Dengan cara seperti itu, maka InsyaAllah segala ujian yang diberikan dapat dipikirkan dan ditemukan solusinya secara bersama sehingga pergerakannya bisa lebih efektif dalam pembangunan ekonomi seluruh umat.
Harus diakui bahwa perkembangan ekonomi islam merupakan bagian penting dari pembangunan ekonomi bangsa dan juga mayoritas muslim, bukan hanya sebuah gerakan sebagaimana penilaian dan pemikiran oleh sebagian orang yang sama sekali tidak paham tentang karakteristik ekonomi syari’ah.
Hikmah didirikannya ekonomi islampun sangat banyak, salah satunya praktek ekonomi islam ini mengajarkan pada kita bahwa perbuatan riba (melebih-lebihkan) itu adalah perbuatan dosa besar yang sangat dibenci oleh Allah SWT dan mengajarkan pada kita agar menjauhi perbuatan tersebut. Selain itu ekonomi islam juga sebagai wadah menyimpan dan meminjam uang secara halal dan diridhoi oleh Allah SWT.
Dalam bentuk praktek, ekonomi islam telah
berkembang dalam bentuk lembaga perbankan dan juga lembaga-lembaga islam non
bank lainya. Sampai saat ini, lembaga perbankan dan lembaga keuangan islam
lainya telah menyebar ke 75 negara termasuk ke negara barat
Di Indonesia, perkembangan pembelajaran dan
pelaksanaan ekonomi islam juga telah mengalami kemajuan yang pesat.
Pembelajaran tentang ekonomi islam telah diajarkan di beberapa perguruan tinggi
negeri maupun swasta. Perkembangan ekonomi islam telah mulai mendapatkan
momentum sejak didirikannya Bank Muamalat pada tahun 1992. Berbagai
Undang-Undangnya yang mendukung tentang sistem ekonomi tersebutpun mulai
dibuat, seperti UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana yang telah
diubah dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 dan Undang-undang Nomor 23 Tahun
1999 tentang Bank Indonesia, bahkan mendapat dukungan langsung dari bapak wakil
presiden Indonesia, Jusuf Kalla.[1]
A.
Sejarah
Berdirinya
Sebenarnya aksi maupun pemikiran tentang ekonomi berdasarkan islam memiliki sejarah yang amat panjang. Pada sekitar tahun 1911 telah berdiri organisasi Syarikat Dagang Islam yang beranggotakan tokoh-tokoh atau intelektual muslim saat itu, serta ekonomi islam ini sesuai dengan pedoman seluruh umat islam di dunia yaitu di dalam Al-Qur’an yang mengatakan bahwa jika kamu akan bermuamalah, hendaklah kamu menuliskannya dengan benar, dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakannya (apa yang akan dituliskan itu), dan janganlah orang itu mengurangi sedikit pun dari utangnya. Jika orang yang mengutang itu lemah akalnya atau lemah keadaanya atau tidak mampu mengimlakannya, maka hendaklah walinya yang mengimlakannya dengan jujur. Selain itu juga harus didatangkan dua orang saksi dari orang lelaki. Jika tidak ada maka boleh dengan seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu kehendaki, dan jangalah saksi itu enggan memberikan memberi keterangan apabila mereka dipanggil, dan janganlah engkau jemu menulis utang itu baik kecil maupun besar sampai batas waktu pembayaranya. Kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai kamu, maka tak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskanya. Dan persaksikanlah apabila kau berjual beli, dan janganlah penulis dan saksi saling menyulitkan (Q, S Al-Baqarah: 282).
Sebenarnya aksi maupun pemikiran tentang ekonomi berdasarkan islam memiliki sejarah yang amat panjang. Pada sekitar tahun 1911 telah berdiri organisasi Syarikat Dagang Islam yang beranggotakan tokoh-tokoh atau intelektual muslim saat itu, serta ekonomi islam ini sesuai dengan pedoman seluruh umat islam di dunia yaitu di dalam Al-Qur’an yang mengatakan bahwa jika kamu akan bermuamalah, hendaklah kamu menuliskannya dengan benar, dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakannya (apa yang akan dituliskan itu), dan janganlah orang itu mengurangi sedikit pun dari utangnya. Jika orang yang mengutang itu lemah akalnya atau lemah keadaanya atau tidak mampu mengimlakannya, maka hendaklah walinya yang mengimlakannya dengan jujur. Selain itu juga harus didatangkan dua orang saksi dari orang lelaki. Jika tidak ada maka boleh dengan seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu kehendaki, dan jangalah saksi itu enggan memberikan memberi keterangan apabila mereka dipanggil, dan janganlah engkau jemu menulis utang itu baik kecil maupun besar sampai batas waktu pembayaranya. Kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai kamu, maka tak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskanya. Dan persaksikanlah apabila kau berjual beli, dan janganlah penulis dan saksi saling menyulitkan (Q, S Al-Baqarah: 282).
Perkembangan ekonomi islam yang semakin marak ini merupakan cerminan dan kerinduan umat islam di Indonesia ini khususnya seorang pedagang, berinvestasi, bahkan berbisnis yang secara islami dan diridhoi oleh Allah swt. Dukungan serta komitmen dari Bank Indonesia dalam keikutsertaanya dalam perkembangan ekonomi islam dalam negeripun merupakan jawaban atas gairah dan kerinduan dan telah menjadi awalan bergeraknya pemikiran dan praktek ekonomi islam di dalam negeri, juga sebagai pembaharuan ekonomi dalam negeri yang masih penuh kerusakan ini, serta awal kebangkitan ekonomi islam di Indonesia maupun di seluruh dunia, misalnya di Indonesia berdiri Bank Muamalat tahun 1992.
Pada awal tahun 1997, terjadi krisis ekonomi di Indonesia yang berdampak besar terhadap goncangan lembaga perbankan yang berakhir likuidasi pada sejumlah bank, Bank Islam atau Bank Syariah malah bertambah semakin pesat. Pada tahun 1998, sistem perbankan islam dan gerakan ekonomi islam di Indonesia mengalami kemajuan yang sangat pesat.
Selain itu di tingkat ASEAN sendiri, dengan akan
dicanangkannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) Sebagai salah satu pilar ASEAN
Vision 2020 tentunya, akan banyak persiapan bagi Indonesia. Berdasarkan
laporan AEC Scorecard yang diterbitkan oleh Sekretariat
ASEAN pada tahun 2009, Negara yang dinilai mencapai tingkat implementasi MEA
tertinggi adalah Singapura dengan nilai 93,52%. Dari 10 negara anggota,
Indonesia menempati urutan ke-7 dengan nilai 80,37%. Hal tersebut mencerminkan
bahwa Indonesia belum sepenuhnya siap menghadapi MEA. Terbentuknya pasar
tunggal sebagai karakteristik utama MEA meyebabkan seluruh Negara ASEAN
khususnya Indonesia mau tidak mau harus bersaing.
B. Tantangan
Ekonomi Islam dalam Menghadapi Perkembangan Ekonomi Global
1. sesuai
dengan perkembangan ekonomi global dan semakin meningkatnya minat masyarakat
dengan ekonomi perbankan secara islami, ekonomi islam mendapat tantangan yang
sangat besar pula. Setidaknya ada tiga tantangan yang harus dihadapi, yaitu:
Pertama, ujian atas kredibilitas sistem ekonomi dan keuanganya. Kedua, bagaimana
sistem ekonomi islam dapat meningkatkan dan menjamin atas kelangsungan hidup
dan kesejahteraan seluruh umat, dapat menghapus kemiskinan dan pengangguran di
Indonesia ini yang semakin marak, serta dapat memajukan ekonomi dalam negeri
yang masih terpuruk dan dinilai rendah oleh negara lain. Dan yang ketiga,
mengenai perangkat peraturan; hukum dan kebijakan baik dalam skala nasional
maupun dalam skala internasional. Untuk menjawab pertanyaan itu, telah dibentuk
sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang tersebut yaitu organisasi IAEI
(Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia).
Organisasi tersebut didirikan dimaksudkan untuk membangun jaringan kerja sama dalam mengembangkan ekonomi islam di Indonesia baik secara akademis maupun secara praktek
Organisasi tersebut didirikan dimaksudkan untuk membangun jaringan kerja sama dalam mengembangkan ekonomi islam di Indonesia baik secara akademis maupun secara praktek
2. Perkembangan
lembaga perbankan dan keuangan syariah mengalami kemajuan yang sangat
pesat dan menunjukkan ketangguhannya dalam masa krisis moneter dan menunjukkan
data-data kemajuan yang fantastis. Ketika bank konvensional mengalami
likuidasi, bank syariah dapat bertahan dengan sistem bagi hasilnya, sehingga
tidak wajib membayar bunga pada jumlah tertentu kepada nasabah sebagaimana pada
bank konvensional. FDR bank syariah yang senantiasa tinggi, menunjukkanbahwa
dana pihak ketiga bersifat produktif yang di investasikan kepada usaha-usaha
masyarakat kecil maupun menengah.
Menurut Ketua I Ikatan Ahli
Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) dan Wakil Sekjen MES Pusat, Bapak
Agustianto menyebutkan bahwa setidaknya ada lima
masalah dan tantangan yang dihadapi ekonomi Islam saat ini.
·
Pertama, masih minimnya pakar ekonomi Islam
berkualitas yang menguasai ilmu-ilmu ekonomi modern dan ilmu-ilmu syariah
secara integratif.
·
Kedua, ujian atas kredibiltas sistem ekonomi dan
keuangannya,
·
ketiga, perangkat peraturan, hukum dan
kebijakan, baik dalam skala nasional maupun internasional masih belum memadai .
·
Keempat, masih terbatasnya perguruan tinggi yang
mengajarkan ekonomi Islam dan masih minimnya lembaga tranining dan consulting
dalam bidang ini, sehingga SDM di bidang ekonomi dan keuangan syariah masih
terbatas dan belum memiliki pengetahuan ekonomi syariah yang memadai.
·
Kelima , peran pemerintah baik eksekutif maupun
legislatif, masih rendah terhadap pengembangan ekonomi syariah, karena
kurangnya pemahaman dan pengetahuan mereka tentang ilmu ekonomi Islam.
C. Posisi
FoSSEI dalam Pembumian Ekonomi Islam untuk kemajuan Ekonomi Indonesia
[2]Fossei
sebagai organisasi mahasiswa pertama yang mempunyai visi pembumian ekonomi
islam di Indonesia, merupakan organisasi yang mempunyai peran penting dalam
menanggapi setiap perubahan ekonomi global sekaligus menanggapi perkembangan
ekonomi islam yang semakin pesat. FoSSEI sebagai Organisasi Pembumian Ekonomi
Islam juga organisasi pengkaderan para aktivis ekonomi islam. Bahwa FoSSEI
memiliki peran penting dalam partisipasinya menghadapi permasalahan serta
tantangan tersebut. Dengan melakukan riset atau penelitian,
mengadakan kajian dan diskusi yang akan memunculkan ide-ide cemerlang, serta
forum-forum besar yang diadakan bersama untuk membahas dan mencari solusi atas
permasalahan ekonomi tersebut. Selain itu dengan memperluas gerak langkah
dakwahnya ke tingkat SMP,SMA, pondok pesantren, hingga sampai terjun ke
masyarakat umum secara langsung. FoSSEI yang dalam gerak dakwahnya minimal bisa
memberikan pengaruh positif di tingkat kampus, seperti mulai mengedukasi
mahasiswa di kampus tersebut dari mulai mengenalkan dan memberikan pengetahuan
bagaimanakah seharusnya kegiatan ekonomi yang sesuai dengan syariah itu.
Dalam kepengurusannya, FoSSEI yang di dukung oleh
KSEI-KSEI (Kelompok Study Ekonomi Islam) yang tersebar di kampus-kampus di
berbagai daerah di Indonesia, mempunyai agenda kerja rutin tiap tahunnya,
seperti mengadakan Rapat Kerja Nasional setiap awal kepengurusan, musyawarah
nasional setiap akhir kepengurusan, Kampanye Nasional Ekonomi Islam setiap hari
lahirnya dan Temilnas sebagai ajang bertemunya para ilmuan-ilmuan ekonomi islam
seluruh Indonesia. Dalam setiap agenda tersebut, FoSSEI selalu membahas isu-isu
terkini baik isu perekonomian indonesia maupun perekonomian global, baik
melalui seminar, talkshow, diskusi, kajian juga menyertakan isu-isu
tersebut sebagai tema lomba karya tulis sehingga diharapkan melalui karya tulis
tersebut muncul ide-ide brilian sebagai solusi atas permasalahan tersebut
khususnya masalah ekonomi. Seperti pada temilnas di Riau bulan Maret kemarin,
dalam acara seminar nya membahas mengenai permasalan krisis global juga terkait
peningkatan kualitas SDM ekonomi islam di Indonesia.
[3]Hal
tersebut mencerminkan bahwa masyarakat telah mengenal dan mulai meyakini bahwa
solusi atas permasalahan ekonomi yang terjadi, baik terkait krisis, inflasi,
pengangguran, kemiskinan dan lainya, yaitu Sistem ekonomi yang berjalan sesuai syariah
islam lah solusinya. Sistem ekonomi yang berjalan pada masa Rasulullah
SAW. Hanya perlu kerja sama dari seluruh penggiat ekonomi islam di
seluruh indonesia untuk bersama-sama mewujudkan tercapainya keadilan
dan kesejahteraan bagi semua kalangan masyarakat dengan terwujudnya
sistem ekonomi isla
Komentar
Posting Komentar